Kamis, 01 September 2011


 JENIS –JENIS ALAT MEKANIS PADA AKTIFITAS KEGIATAN PENAMBANGAN

A. Alat Gali
Ø  Bulldoser
Merupakan alat gali yang biasa digunakan dalam pekerjaan perintisan. Jenis alat ini banyak membantu pekerjaan-pekerjaan alat muat. Bila ditinjau dari roda penggeraknya, maka terbagi atas dua jenis, yaitu:
·         Bulldozer yang meggunakan roda penggerak karet (rubber tired), jenis ini memiliki gerakan lebih lincah dan gesit, namun hanya cocok untuk daerah kerja yang kering dan landasan yang keras.
§  Bulldozer dengan roda penggerak rantai (crawler tired), buldozer ini memiliki gerakan lambat namun daya gusurnya meyakinkan dan dapat bekerja pada daerah yang kering maupun becek hal ini dikarenakan roda penggeraknya mampu mencengkram landasan kerjanya sehingga tidak mudah selip.

                                                               

Ø  Power Scraper
Power scraper merupakan alat gali yang dapat digunakan sebagai alat muat sekaligus. Alat ini mampu bekerja pada medan yang sempit/terbatas luasnya maupun yang daerah luas. Selain itu alat ini memiliki mobilisasi cepat karena dalam sekali putaran dapat melakukan penggalian, mengangkut, mengosongkan dan berbalik kembali lagi ketempat penggalian dan berputar dan produksinya tinggi serta ongkos operasinya relatif rendah.




Ø  GRADER
Ini adalah alat untuk meratakan tanah timbunan atau memelihara jalanan yang tidak diperkeras, terdiri dari “blade” yang dihuibungkan kepada suatu “cirela” sehingga dapat digerakan dalam arah mendatar dan vertical. Cara kerjanya hampir sama dengan “Scraper”, yaitu menggali tanah dibawahnya dengan tebal tertentu dengan mempergunakan “blade”-nya. Bedanya dengan “scraper” tanah hasil galian tidak diangkut sendiri, dan tanah galiannya sangat sedikit jumlahnya. Melainkan untuk pekerjaan penyelesaian (finishing works) dan pemeliharaan saja.



Ø  Bucket Whell Exavator
Alat gali jenis ini cocok digunakan pada material tanah penutup baik yang tipis maupun tebal. Alat ini dapat digunakan pada medan kerja di atas maupun di bawah dari posisi alat. Prinsip kerjanya boom  yang pada ujung alat terdapat mangkuk diarahkan ke material yang akan digali, kemudian setelah itu material tersebut ditumpahkan ke atas belt yang berfungsi sebagai alat angkut.


 



















B. Alat Muat
Ø  Power shovel
Alat ini berupa sekop besar yang digerakan dengan roda penggerak berupa rantai (crawler). Besarnya alat ini ditentukan oleh besarnya sekop (dipper) yang dapat digerakan baik secara vertical maupun horisontal. Berdasarkan ukurannya, dibedakan atas tiga yaitu, ukuran besar (3/4 cuyd), ukuran sedang (2 – 8 cuyd) dan ukuran besar (8 – 35 cuyd atau lebih). Medan kerja dari power shovel lebih rendah dari pada posisi alat.


Ø  Whell Loader
Jenis alat muat yang banyak digunakan kareana gerakannya yang gesit dan lincah. Prisip kerja dari alat ini saat akan menggali maka bucket didorong ke arah permukaaan kerja kemudian bucket tersebut diangkat ke atas alat angkut. Karena daya jangkau dari bucket terbatas maka posisi alat angkut sama tinggi dengan tempat whell loader bekerja. Whell loader memiliki ukuran bucket berkisar 1,25 cuyd hingga 13,5 cuyd.


Ø  Back Hoe
Back hoe merupakan alat muat yang hampir sama dengan dengan power shovel, namun yang membedakan adalah medan kerjanya, back hoe memiliki medan kerja yang lebih rendah dari posisi alat hal ini dikarenakan posisi dipper yang berbanding terbalik dengan dipper pada shovel. Berdasarkan ukurannya maka back hoe dibedakan atas 3 yaitu, ukuran kecil (0,5 – 1,25 cuyd), ukuran sedang (1,13 – 2,75 cuyd) dan ukuran besar (2 – 3,75 cuyd).

C. Alat Angkut
Ø  Dump Truck
Jenis alat angkut yang paling banyak digunakan pada kegitana penggangkutan mengingat produksinya yang besar, kecepatan tinggi dan tidak bergantung pada jalur jalan. Berdasarkan ukuran maka dibagi atas 3 bagian yaitu, ukuran kecil dengan kapasitas 25 ton, ukuran sedang 25 – 100 ton dan ukuran besar dengan klapasitas diatas 100 ton.



Ø  Locomotif dan Lori
Jenis alat angkut ini digunakan pada daerah yang relative mendatar dengan kemiringan maksimum 5% dengan jarak angkut sedang. Alat ini terdiri dari locomotif yang berfungsi sebagai penggerak untuk menarik rangkaian lori yang berisi material yang bergerak di atas rel. Umumnya  alat ini digubnakan pada tambang dengan tonase besar dan umur tambang yang lama.


Ø  Belt conveyor
Selain digunakan pada pabrik-pabrik alat angkut jenis ini dapat digunakan pada industri pertambangan, baik tambang terbuka maupun tambang dalam. Beltconveyor merupakan rangkaian ban berjalan yang dapat digunakan mengangkut material baik secara mendatar maupun miring. Belt dapat dibuat dari beberapa macam bahan baik dari karet, maupun logam.




Ø  Rope Haulage
Merupakan jenis alat angkut yang umumnya digunakan pada tambang bawah tanah, dimana berupa satu rangkaian rel dengan menggunakan wire rope dan drum hoist yang dilengkapai dengan motor penggerqk untuk menarik rangkaian lori yang berisi muatan.






















SOAL

1.        Untuk endapan apa percussive drill, rotary drill dan hydraulic rotary drill digunakan?
2.       Jelaskan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat bor!
3.       Jelaskan tujuan pemboran!
4.       Jelaskan kegunaan dari pemboran!
5.       Jelaskan kekurangan dan kelebihan percussive drill, rotary drill dan hydraulic rotary drill!
6.       Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pemboran!



JAWABAN


1.        Percussive drill, rotary drill dan hydraulic rotary drill digunakan untuk endapan yang keras.
2.       Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat bor adalah sebagai berikut :
·         Harga alat bor
·         Kedalaman lubang bor yang diinginkan
·         Formasi batuan yang akan dibor
·         Macam keterangan yang ingin diperoleh
·         Kecepatan pemboran yang diinginkan
·         Cara pengangkutan yang dapat diperoleh
·         Ongkos pemboran yang tersedia
3.       Adapun tujuan pemboran adalah sebagai berikut :
·         Untuk prospecting
·         Untuk eksplorasi, dalam hal ini pengambilan sampling
·         Untuk pembuatan lubang-lubang tembak ( blast holes)
·         Untuk eksploitasi : minyak dan gas bumi
·         Untuk penirisan (drainage) dan ventilasi
·         Untuk pengisian pasir (sand filling) dan pemadaman kebakaran di bawah tanah (fire fighting)
·         Untuk membuat lubang sumuran (shaft) yang besar
4.       Kegunaan dari pemboran adalah :
·         Untuk mengambil contoh inti bor kemudian dilakukan pendiskripsian inti tersebut
·         Untuk membuat sayatan geologi berdasarkan korelasi lubang bor
·         Untuk menunjukan adanya suatu struktur geologi bawah tanah
·         Untuk mengetahui muka airtanah
·         Untuk mengadakan percobaan-percobaan di lubang bor, sebagai pekerjaan ikutan dari pemboran
5.       Kekurangan dan kelebihan percussive drill, rotary drill dan rotary hydraulic drill adalah sebagai berikut :
·         Kekurangan
ü  Tidak dapat dipasang core barrel di depan turbin
ü  Lubang bor selalu berdiameter besar

·         Kelebihan
ü  Tenaga yang dipakai sedikit (menghemat HP mesin penggerak)
ü  Efisiensi penggunaan mud flush bertambah
ü  Kemungkinan patahnya drill hole sedikit (fatique)
ü  Kemungkinan deviasi (defleksi) berkurang
6.       Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pemboran adalah :
·         Beban
·         Frekwensi penumbukan
·         Sifat batuan
·         Pengalaman operator

TRACING FLOAT, PARITAN, DAN SUMUR UJI


TRACING FLOAT, PARITAN, DAN SUMUR UJI
            Selain pemetaan geologi melalui pengamatan (pendiskripsian) singkapan, penyusuran (pencarian) lokasi endapan bijih dapat juga di lakukan dengan tracing float, paritan atau sumur uji. Secara teoritis, dengan melakukan kombinasi kegiatan antara pemetaan geologi, tracing float, paritan, dan sumur uji dengan mengumpulkan petunjuk-petunjuk kearah bijih, maka lokasi endapan dapat diketahui (ditentukan).

1. Tracing Float

            Float adalah fragmen-fragmen atau pecahan-pecahan (potongan-potongan) dari badan bijih yang lapuk dan tererosi. Akibat adanya gaya grafitasi dan aliran air, maka float ini ditransport ketempat-tempat yang lebih rendah (kearah hilir). Pada umumnya, float ini banyak terdapat pada aliran sungai-sungai (lihat gambar 1)
            Tracing (penjelasan = perunutan) float ini pada dasarnya merupakan kegiatan pengamatan pada pecahan-pecahan (potongan-potongan) batuan seukuran kerakal s/d boulder yang terdapat pada sungai-sungai, dengan asumsi bahwa jika terdapat pecahan-pecahan yang mengandung mineralisasi, maka sumbernya adalah pada suatu tempat di bagian hulu dari sungai tersebut. Dengan berjalan kearah hulu, maka diharapkan dapat ditemukan asal dari pecahan (float) tersebut.
            Intensitas, ukuran, dan bentuk butiran float yang mengandung mineralisasi (termineralisasi) dapat digunakan sebagai indicator untuk menduga jarak float terhadap sumbernya. Selain itu sifat dan krakteristik sungai seperti kuat arus, banjir, atau limpasan juga dapat menjadi factor pendukung.
            Selain dengan tracing float, dapat juga dilakukan tracing dengan pendulangan (tracing with panning). Pada tracing float, material yang menjadi panduan berukuran kasar (besar), sedangkan dengan menggunakan dulang ditujukan untuk material-material yang berukuran halus (pasir s/d kerikil). Secara konseptual tracing dengan pendulangan ini mirip dengan tracing float.
            Pada gambar 2 dapat dilihat sketsa pengerjaan metode tracing float atau tracing with panning tersebut, dimana pengecekan dilakukan untuk semua cabang (anak) sungai. Oleh sebab itu, informasi 9peta) jaringan sungai menjadi media utama untuk metode ini.
Informasi-informasi yang perlu di perhatikan adalh:
o    Peta jaringan sungai
o    Titik-titik (lokasi) pengambilan float
o    Tititk-titik informasi dimana float termineralisasi/ tidak termineraliswasi
o    Titik-titik informasi kuantitas dan kualitas float
o    Lokasi dimana float mulai hilang
Pada lokasi dimana float mulai hilang. Dapat diinterpretasikan bahwa zona sumber float telah terlewati, sehingga konsentrasi penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada daerah dimana float tersebut mulai hilang.secara teoritis, pada daerah dimana float tersebut hilang dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan uji paritan (trenching) dan uji sumuran (test pitting).

2. Trenching (pembuatan paritan)
            Trenching (pembuatan paritan) merupakan salah satu cara dalam observasi singkapan atau dalam pencarian sumber (badan) bijih / endapan.
o    Pada pengamatan (observasi) singkapan, paritan uji di lakukan dengan cara menggali tanah penutup dengan arah relatif tegak lurus bidang perlapisan (terutama pada endapan berlapis). Informasi yang di perolaeh antara lain: jurus bidang perlapisan, kemiringan lapisan, kerakteristik perlapisan (ada split atau sisipan), serta dapatr sebagai lokasi sampling.
o    Sedangkan pada pencarian sumber (badan) bijih, parit uji di buat berupa series dengan arah paritan relatif tegak lurus terhadap jurus zona badan bijih, sehingga batas zona bijih tersebut dapat di ketahui (lihat gambar 3). Informasi yang dapat diperoleh antara lain: adanya zona alterasi, zona mineralisasi, arah relatif (umum) jurus dan kemiringan, serta dapat sebagai lokasi sampling. Dengan mengkorelasikan series paritan uji tersebut diharapkan zona bijih/ mineralisasi/badan endapan dapat diketahui.  
Pembuatan trenching (paritan) ini dilakukan dengan kondisi umum sebagai berikut:
o    Terbatas pada overburden yang tipis
o    Kedalaman penggalian umumnya 2 – 2,5 m (dapat dengan tenaga manusia atau dengan menggunakan eksavator / back hoe)
o    Pada kondisi lereng (miring) dapat dibuat mulai dari bagian yang rendah, sehingga dapat terjadi mekanisme self drainage (pengeringan langsung)

3. Test pit (sumur uji)
            Test pit (sumur uji) merupakan salah satu cara dcalam pencarian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam vertical. Pembuatan sumur uji ini dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih (> 2,5 m). Pada umumnya sutau deretan (series) sumur uji dibuat searah jurus, sehingga pola endapan dapat dikorelasikahn dalam arah vertical dan horizontal.
            Sumur uji ini umum dilakukan pada eksplorasi endapan-endapan yang berhubungan dengan pelapukan dan endapa-endapan berlapis.
o        Pada endapan berlapis, pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan, variasi litologi  atap dan lantai, ketebalan lapisan, dan karakteristik variasi endapan secara vertikal, serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling (lihat gambar 4). Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan lapisan endapan yang dicari, misalnya batubara dan mineralisasi berupa urat (vein).
o        Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan (lateritik atau residual), pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas-batas zona lapisaan (zona tanah, zona residual, zona lateritik), ketebalan masing-masing zona, variasi vertikal masing-masing zona, serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan.
Pada umumnya, sumur uji dibuat dengan besar lubang bukaan 3 – 5 m dengan kedalaman bervarisi sesuai dengan tujuan pembuatan sumur uji. Pada endapan lateritik atau residual, kedalaman sumur uji dapat mencapai 30 meter atau sampai menembus batuan dasar.

            Dalam pembuatan sumur uji tersebut perlu di perhatikan hal-hal sebagai berikut :
o     ketebalan horizon B (zona laterit atau residual)
o     ketinggian muka air tanah
o     kemungkinan munculnya gas-gas berbahaya (CO2 , H2S)
o     kekuatan dinding lubang
o     kekerasan batuan dasar

PENDAHULUAN

Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang mempunyai resiko yang tinggi (kerugian). Dalam usaha pemamfaatan sumberdaya mineral/bahan galian untuk kesejahteraan masyarakat dan pengembangan suatu daerah, diperlukan suatu usaha pertambangan. Agar usaha pertambangan tersebut dapat berjalan dan memproleh keuntungan, maka potensi sumberdaya minersl/bahan galian yang ada harus diketahui dengan pasti, begitu juga terhadap resiko yang ada, yang dapat dirinci sebagai resiko geologi, resiko ekonomi-teknologi, dan resiko lingkungan, harus dihilangkan atau paling diperkecil.
Dalam usaha untuk mengetahui potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang ada serta mengidentifikasi kendala alami maupun kendala lingkungan yang mungkin ada, makaperlu dilakukan eksplorasi terlebih dulu. Jadi kegiatan eksplorasi merupakan suatu kegiatan penting yang harus dilakukan sebelum suatu usaha pertambangan dilaksanakan. Hasil dari kegiatan eksplorasi tersebut harus dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat mengenai sumberdaya mineral/bahan galian maupun kondisi-kondisi geologi yang ada, agar study kelayakan untuk pembukaan usaha pertambangan yang dimaksud dapat dilakukah dengan teliti dan benar (akurat).