METODE SAMPLING
Sampling atau pengambilan contoh adalah dasar daripada suatu pekerjaan eksploitasi. Yang disebut sampling adalah suatu proses untuk mendapatkan sebahagian hasil dari suatu massa yang besar dan cukup reprosentatif untuk mewakili massa asli.
1. Pekerjaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui kesamaan daripada assay.
2. Mengetahui sifat fisis daripada batuan untuk menentukan sistem penambangan yang bakal dipakai.
Persoalan yang dihadapi yang kita hadapi dalam hal ini ialah bagaimana supaya dapat dicapai suatu hasil yang dapat merefleksikan keadaan yang sebenarnya dan seekonomis mungkin. Dengan demikian selama ada tiga stip yang penting dalam hal ini yaitu sebagai berikut :
1. Sample Design
2. Sample Method
3. Estimation
SUMBER – SUMBER KESALAHAN PADA PADA SAMPLE (FACTOR)
1. Jumlah sample yang tidak mencukupi. (Misalnya suatu pengambilan contoh dengan bor 1 – 2 – 3. Dalam hal ini frekuensi n = 3 tak memenuhi syarat, maka n = 5 / penambahan frekuensi).
2. Pemberian lokasi yang salah pada sample yang diambil ( IMPROVER LOCATION ).
3. Salting atau peninggian kadar daripada keadaan yang sebenarnya. Misalnya dalam kantong dimasukkan sample yang hight grade dan kemudian pada kantong tersebut dimasukkan lagi sample yang low grade, kemudian sample yang low grde tersebut akan menjadi hight grade. Peninggian kadar karena suatu ketidaksengajaan.
4. Kesalahan – kesalahn pada saat analisa kimia.
Contoh :
Kadar x Panjang
Kadar x Lebar
5. Cara weighting ( cara menghitung cadangan ) yang salah pada sample.
Untuk mengoreksi kesakahan – kesalahan di atas maka perlu dilakukan Chek Samples dan Umpire Assaying atau Assay yang dilakukan oleh pihak ketiga untuk mengecek kebenaran kebenaran dari assay sebelumnya.
PROSEDUR – PROSEDUR YANG HARUS DIKETAHUI SEBELUM MELAKUKAN SAMPLING
1. Penentuan metode – metode pengambilan sampel.
2. Penentuan jumlah sample yang akan diambil, tergantung faktor ekonomis dan waktu.
Hal – hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a). Regularity ( teratur atau tidak teraturnya ) distribusi bijih.
b). Besar atau size daripada ore body
c). Keadaan keuangan dan waktu yang tersedia
d). Degree of Reficement yang dibutuhkan
3. Interval dan ukuran.
4. Adakan sketsa daripada operasi pengambilan.
5. Permukaan yang diambil adalah permukaan yang bersih.
6. Kantong – kantong sampling harus dan diberi nomor
Dalam kesempatan ini kami hanya memberi batasan masalah di metode sample method ( Metode Sampling ). Di sini ada dua cara atau dua metode umum yang biasa dipakai sesuai dengan keadaan.
v CHANNEL SAMPLING
Suatu cara pengambilan sample dalam jumlah yang sedikit. Apabila kita membuat suatu channel, dalam hal ini kita menggunakan palu geologi atau pahat untu membuat ore body di dalam channel tersebut. Ukuran – ukuran channel tersebut adalah sebagai berikut :
Lebar 1 ½ “
Dalam 1 “
v BULK SAMPLING
Suatu cara pengambilan sample dalam jumlah yang besar. Bila vein berupa vein let yang tipis atau bila jumlah terdapat dalam bentuk pocet atau kantong yang tersebar disana sini maka sample yang diambil sebaiknya diambil dala jumlah yang besar untuk mengetahui “ Mineral Evarge Content “. Sample dapat diperoleh dengan jalan blasting.
v HISTOGRAM SAMPLING
Suatu metode membuat sample dalam diagram setelah assay itu mulai mengolah secara diagram. Metode ini sangat berguna karena tanpa ke lapangan kita akan dapat membaca keadaan daripada sample atau keadaan mineralisasi.
Metode –metode sampling yang digunakan dalam prospeksi geokimia adalah sebagai berikut :
v SAMPLING BATUAN
Sampling batuan dapat dilakukan pada singkapan, dalam tambang dan inti bor. Dalam hal ini permukaan batuan dibersihkan dengan pencucian dan conto chip diambil dalam area atau interval yang standar. Conto batuan 500 gram umumnya diambil terhadap batuan berbutir halus, sedangkan batuan yang berbutir sangat kasar diambil lebih dari 2 Kg. Pada metode ini data dapat secara langsung berhubungan dengan aureole primer dalam sampling detail dan terhadap provinsi geokimia dalam sampling pengamatan awal. Konteks geologi dan conto batuan langsung menggambarkan struktur, jenis batuan, mineralisasi, dan alterasi pada saat conto tersebut diambil
v SAMPLING TANAH
Sampling tanah akan menguntungkan untuk beberapa area dimana jarang ditemukan singkapan. Lubang untuksampling tersebut dapat digali secara manual ataupun mekanis. Setelah conto tanah diambil, terus diayak sampai – 80 mesh dan 20 – 50 gram fraksi halus dikumpulkan untuk dianalisis. Survei tanah umumnya dibuat pada suatu pola lintasan dengan jarak lokasi antar titik
conto 300 – 1500 m pada pengamatan awal da 15 – 60 m pada survei selanjutnya
v SAMPLING SEDIMEN
Sampling sedimen sungai merupakan komposit alami dari material di bagian atas ( hulu ) sampai lokasi sampling. Sampling tersebut efektif pada pekerjaan pengamatan awal dimana lokasi conto tunggal mungkin menunjukkan area tangkapan ( catchment area 0 yang sangat luas. Dalam survei yang detail, conto dapat diambil setiap 50 – 100 m sepanjang aliran, masing –masing sebanyak 50 gram dengan ukuran butir – n80 mesh untuk keperluan analisis.
v SAMPLING AIR
Sampling air merupakan salah satu metode geokimia yang paling lama. Metode tersebut mudah dilakukan, tetapi conto air tidak stabil untuk waktu yang singkat. Faktor – faktor yang mengontrol kandungan logam dalam air permukaam seperti dilusi, pH, temperatur, kompleks organik sulit untuk dievaluasi, dan kandungan logam biasanya relatif rendah.
v SAMPLING VEGETASI
Sampling vegetasi diperlukan koreksi terhadap sampling tanah dan air tanah untuk analisa kimia. Tumbuhan mengekstrak unsur – unsur logam dari kedalaman dan mengirimnya ke dedaunan. Interpretasi yang dihasilkan lebih kompleks dibandingkan dengan metode lainnya. Sampling yang dilakukan sangat sederhana hanya dengan memotong rantingbdari dedaunan. Contoh yang diambil sekitar 100 gram daun atau ranting muda pada setiap pohon, kemudian dikirim ke labolatorium untuk diabukandan dianalisis, conto abu akhir umumnya
sekitar 10 – 30 gram. Idealnya vegetasi disampling pada lintasan yang seragam.
v SAMPLING UAP
Sampling uap air raksa yang digunakan sebagai petunjuk badan bijih sulfida sejak sekitar tahun 1950-an yang diambil dari tanah, udara maupun air. Sprektrometer portabel sering digunakan untuk memompa gas dari lubang bor berdiameter kecil ke dalam tanah. Conto yang paling efektif diambil dari tanah dimana konsentarasi gas lebih ribuan kali lebih banyak darpada di udara. Radon (Rd) dan Helium (He) dikumpulan dari conto air permukaan dan air tanah yang terbukti efektif sebagai petunjuk mineralisasi Uranium.
v GRAB SAMPLING
Suatu cara pengambilan sample berupa hand specement. Metode ini tidak bagus karena tidak teliti atau unsleting, atau sama denga memberikan gambaran –gambaran yang salah dari keadaan semestinya. Grab samplig dilakukan karena faktor – faktor seperti waktu yang terbatas atau terdesak.
v CHIP SAMPLING
Suatu cara pengambilan sample yang biasanya dipergunakan untuk dipakai pada bijih bahan galian yang kompak atau massive.
v PILE SAMPLING
Adalah suatu cara pengambilan conto pada pili / ore bin, untuk ini harus tahu cara saat mengadakan “ Pilling “ Karena hal ini mempengaruhi letak butiran ( Bongkah ).
v TRENCHING
Adalah suatu cara pengambilan conto dengan membuat parit pada singkapan bijih sehingga dapat diketahui bentuk endapan kadar dan kedalaman. Paritan dibuat dengan memotong atau tegak lurus terhadap singkapan.
v TEST PIT ( SUMUR UJI )
Test Pit merupakan salah satu cara dalam pencaraian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam arah vertikal. Pembuatan sumut uji dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih ( > 2,5 m ). Pada umumnya suatu deretan ( series ) sumur uji dibuat searah jurus, sehingga pola endapan dapat dikorelasikan dalam arah vertikal dan horisontal. Atau dengan kata lain Test Pit adalah suatu cara pengambilan conto dngan jalan membuat sumuran yang dapat dikombinasika dengan Channel Sampling.
Sumur uji ini umumnya dilakukan pada eksplorasi endapan – endapan yang berhubungan dengan pelapukan dan endapan – endapan berlapis.
*. Pada endapan berlapis, pembuatan sumur uji ditujukan untu mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan, varisai litologi atap dan lantai, ketebalan lapisan, dan karakteristik variasi endapan secara vertikal, serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling. Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan lapisan endapan yang dicari, misalnya batubara dan mineralisasi berupa urat ( vein ).
*. Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan ( laterik atau residual ), pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas – batas zona lapisan ( zona tanah, zona residual, zona laterik ), ketebalan masing – masing zona,
variasi vertikal masing – masing zona, serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan.
v DRILLING HOLE SAMPLING
Adalah cara pengambilan conto dari hasil pemboran inti dengan menggunakan mata bor type core drill dan diamond drill.
*. Cara Core Drill
Cara pengambilan conto dengan menggunakan bor tumbuk, biasanya dipergunakan pada batuan yang tidak begitu keras ( uniform ) atau tidak begitu kompak ( semi massive )dn dapat dikerjakan dengan tangan manusia dan sangat baik dipergunakan pada penyelidikan – penyelidikan penambangan yang letaknya tercepncil karena tidak memakan biaya yang besar, alat – alatnya mudah didapat dan sederhana, perawatan dan pelayanan mudah dan transportasinya ringan serta tidak terlalu berbelit – belit.
*. Cara Diamond Drill
Cara pengambilan conto dengan menggunakan tenaga penggerak berupa motor bensin, diesel, mesin uap, motor listrik dan lain sebagainya.
v CARA OUT CROP
Adalah suatu cara pengambilan conto batuan pada permukaan tanah yaitu dengan cara melihat batuan di sekeliling tempat yang diselidiki. Misalnya di tempat A, ditemukan sejenis batuan, kemudian di tempat lain didapati pula batuan yang sejenis tadi misalnya di etmpat B dan C. Kemudian yang penting ialah mencari arah perlapisan batuan itu, sehingga dapat pula ditemukan pula dip dan strikenya. Selanjutnya perlu diadakan penelitian lebih lanjut misalnya dengan pemboran, sumuran dan lain – lain.
v DRIFT AND CROSS CUT
Adalah cara pengambilan conto pada sisi – sisi dari drift dan cross out oleh channel tegak lurus pad formasi / lapisan batuan. Hasilnya biasanya mempunyai contoh yang dapat digambarkan k.l. 25 ft.
v TRANCING FLOAT
Adalah suatu cara pengambilan conto fragmen – fragmen atau pecahan – pecahan bijih yang lapuk atau tererosi dengan cara penjejakan atau penurutan atau kegiatan pengamatan pada sungai – sungai.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas pemberian nikmat kesehatan dan kesempatanNya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan judul “Metode Sampling“.
Dengan kerendahan hati, ijinkan kami mengucapkan terima kasih pada :
1. Ir. Andi Ilham Samanlangi. ST, MT selaku dosen penanggung jawab atas segala koreksi dan saran sehingga dapat menyempurnakan makalah ini.
2. Teman – teman kelompok IX atas kerja sama dan kekompakannya.
3. Pihak –pihak lain yang tak dapat kami sebutkan satu persatu.
Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Akhirnya semua saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan dari semua pihak yang sudah disebutkan di atas tadi sehingga nantinya makalah ini bermanfaat bagi kita sebagai mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Makassar, 10 Juni 2004
PENYUSUN
KELOMPOK II
DAFTAR PUSTAKA
1. Dr. Ir. Sudarto Notosiswoyo, Syafrizal, ST. MT, Moh. Nur Heriawan, ST. MT, TA – 312 TEKNIK EKSPLORASI, ITB, Bandung, 2000
2. Ir. Alwi Ibrahim, Teknik Pemboran, ITB, Bandung, 1977
Mata Kuliah : Teknik Eksplorasi
Dosen : Ir. Andi Ilham Samanlangi. ST, MT
Teknik Eksplorasi

OLEH
KELOMPOK II
HERNAWATI A.S ( 2002 31 010 )
ASRI GUSMAN AHMAD ( 2002 31 002 )
ALBERTUS MARIO ( 2002 31 016 )
M. RIFAI PELU ( 2002 31 048 )
M. SUBHAN TURUI ( 2002 31 004 )
M. YASIN KHARIE ( 2003 31 031 )
EDYSAL ( 2002 31 052 )
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2004
Luas Titik Bor 1 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 5 = 25 m
Luas Titik Bor 2 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 3 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 4 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 5 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 5 = 25 m
Luas Titik Bor 6 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 5 = 25 m
Luas Titik Bor 7 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 8 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 9 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 10 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 5 = 25 m
Luas Titik Bor 11 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 5 = 25 m
Luas Titik Bor 12 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 13 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 14 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 10 = 50 m
Luas Titik Bor 15 = sisi x sisi ( S2 ) = 5 x 5 = 25 m
Volume Masing – Masing Titik Bor
V = Luas x Ketebalan
V1 = 25 x 36 = 900 m3
V2 = 50 x 40 = 2000 m3
V3 =
V4 =
V5 =
V6 =
V7 =
V8 =
V9 =
V10 =
V11 =
V12 =
V13 =
V14 =
V15 =
Tidak ada komentar:
Posting Komentar